Infrastruktur dan Ketahanan Sosial: Refleksi Riset Pengendalian Banjir di Semarang
09Okt
Berita Dilihat 311 Kali

Infrastruktur dan Ketahanan Sosial: Refleksi Riset Pengendalian Banjir di Semarang

Dalam Kuliah Tamu Internasional Magister Arsitektur Untag Surabaya, Dr. Sonia Roitman menyampaikan hasil riset kolaboratif di Semarang, Indonesia, terkait proyek “From Technical to Socio-Ecological Pathways for Climate Change Adaptation” (2023-2025). Fokus penelitian mencakup kawasan seperti Kaligawe, Mangkang Wetan, Kandri, dan Kemijen—daerah yang sering terdampak genangan, banjir rob, dan efek tanah turun (land subsidence).

Data lokal menunjukkan bahwa banjir rob dan genangan musim hujan telah menyebabkan kerusakan serius terhadap fasilitas publik, infrastruktur, dan tempat tinggal. Penelitian “Identifikasi Dampak Banjir Rob terhadap Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat di Kecamatan Gayamsari” menemukan bahwa kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di kelurahan terdampak rob lebih rendah dibandingkan kelurahan yang tidak terdampak. 

Selain itu, studi “Social Capital in Dealing with Flood Disasters in Genuk Sub-District, Semarang City” mengindikasikan bahwa modal sosial—terutama kepercayaan, norma, dan jaringan antar warga—belum optimal dalam menghadapi banjir. Kelemahan dalam kepercayaan antara warga dan pemerintah serta kurangnya norma kolektif yang kuat menjadi hambatan. 

Dalam aspek ekonomi, penelitian mengenai “Potential Economic Losses Due to Tidal Inundation and Flood at Semarang City” memperkirakan bahwa peningkatan luas area yang terinundasi akibat banjir rob dan pasang laut serta kondisi tanah yang turun dapat mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar.

Dr. Sonia menekankan bahwa meskipun proyek infrastruktur—seperti kanal pasang surut, revitalisasi kali, dan sistem drainase—berpotensi mengurangi risiko banjir, tanpa partisipasi aktif masyarakat dan pendekatan sosial-ekologis, pembangunan tersebut bisa menyisakan dampak negatif seperti relokasi warga secara sepihak, kehilangan akses ekonomi, dan meningkatnya kesenjangan sosial.

Melalui studi ini, mahasiswa Magister Arsitektur Untag Surabaya mendapatkan wawasan bahwa adaptasi terhadap banjir di kota pesisir seperti Semarang memerlukan kombinasi antara solusi teknis (infrastruktur, pengelolaan drainase, mitigasi rob) dan solusi sosial (modal sosial, partisipasi, keadilan ruang, kompensasi kerugian) agar ketahanan terhadap perubahan iklim dapat tercapai secara adil dan berkelanjutan.

Pendaftaran Mahasiswa Baru Untag Surabaya